Zulbahri Butuh Uluran Tangan Dermawan


LPD | Zulbahri (22) warga Gampong Mesjid Lancok, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, sangat membutuhkan uluran tangan para dermawan. Pasalnya, kondisi Zulbahri saat ini sangat memprihatinkan.
"Kaki kanan dan tangan kirinya kebas, dan tidak dapat merasakan apapun," kata ibu Zulbahri, Asmawati kepada AJNN, Minggu (23/7) dikediamannya.
Zulbahri yang saat ini duduk dibangku kelas II Mandrasah Aliyah Swasta (MAS) Kecamatan Bandar Baru itu, hampir dua bulan terbaring lemas dan tidak dapat meranjak kemanapun, sehingga menghambat pendidikannya.
Dikatakan Asmawati, Zulbahri sudah mengidap lemah tulang akibat step semasa kecil. Namun Bahri mengalami lumpuh kaki dan tangannya itu berawal saat Bahri jatuh ke sawah di belakang rumahnya.
"Awal puasa kemarin jatuh ke sawah di belakang rumah, tidak ada yang melihatnya, setelah itu anak saya mengalami lumpuh tangan kiri dan kaki kanan," terang Asmawati.
Anak pertama dari empat bersaudara hasil perkawinan Hamdan dan Asmawati itu sudah pernah dibawa ke doktor di kecamatan tersebut. Katanya, Zulbahri mengalami gangguan saraf dan lambung. Pengobatan ke RSUD Sigli pun sudah pernah diusahakannya dalam sebulan terakhir. Namun terkendala dengan ekonomi, keluarga Zulbahri hanya dapat membawanya sekali saja.
Saat ini Zulbahri sangat membutuhkan uluran tangan dari para dermawan. Sebab kata Asmawati, jangankan membawa Zulbahri ke rumah sakit, untuk kebutuhan dapur sehari-hari pun sangat sulit.
"Sudah pernah saya bawa ke doktor di Lueng Putu, kata doktor, anak saya kenak saraf dan lambung parah. Untuk bawa kerumah sakit, kami tidak mampu, walaupun pengobatannya gratis," ujar Asmawati melinang air mata.
Amatan AJNN, Asmawati dan suaminya bersama empat anaknya tinggal di gubuk tua, dalam gubuk itu terlihat sinaran matahari yang menembus ke dalam gubuk dari celah atap yang berlobang. Asmawati belakangan ini juga tidak dapat mencari rezeki lagi, karena dia diharus menjaga Zulbahri. Sedangkan suaminya menjadi buruh lepas untuk dapat menafkahi keluarganya.
Yang paling menyayat hati ialah ketika Zulbahri berbicara, bahasanya seakan tidak mau keluar dari mulutnya. Untuk mengatakan "kaki dan tangan saya tidak bisa merasakan apapun" Zulbahri memerlukan beberapa saat untuk dapat mengucapkan kata-kata tersebut. Namun, senyuman yang mengambarkan masa depan cerah di wajahnya masih terpampang walau derita yang begitu pahit dirasakannya.
"Awai lon meukat-meukat mie caluek, jinoe hanjeut lon meukat le, karena harus lon jaga si Bahri. Nye ayah dih ka geujak tueng upah pat yang jeut, (Dulu saya jualan Mie Caluek, sekarang tidak lagi karena harus merawat Bahri, ayahnya bekerja sebagai buruh)" tutup Asmawati.( Informasi AJW).

No comments:

Post a Comment

Pages